Kabar  

Pembangunan Bronjong di Tebing Sungai Dringu Belum Bisa Dilakukan Sepenuhnya, Sehingga Rawan Ambrol Saat Banjir, Ini Penyebabnya

Pembangunan Bronjong di Tebing Sungai Dringu Belum Bisa Dilakukan Sepenuhnya, Sehingga Rawan Ambrol Saat Banjir, Ini Penyebabnya

DRINGU, Radar Bromo – Salah satu sebab ratusan dinding rumah ambrol saat banjir bandang di Dringu, Kabupaten Probolinggo, karena rumah itu berdiri di bantaran Sungai Kedunggaleng.

Sementara dinding sungai Kedunggaleng tidak dibronjong seluruhnya. Sehingga, dinding itu rawan ambrol saat banjir terjadi.

Kepala UPT PSDA Wilayah Sungai Welang Pekalen, Dinas PU SDA Provinsi Jatim Anton Dharma mengatakan, dinding Sungai Kedunggaleng sebenarnya sudah dibronjong. Namun, hanya di titik-titik yang dianggap krusial.

Baca Juga: 3.019 KK Warga Kecamatan Dringu Terdampak Banjir, 40 Orang Mengungsi

“Seperti di tikungan sungai dekat residence pemakaman di Kecamatan Dringu, kami pasang bronjong di sana. Itu pun pengerjaannya bertahap selama dua tahun karena keterbatasan anggaran,” katanya.

Pada 2022, menurutnya, dibangun kaki bronjong. Lalu pada 2023 berlanjut ke bagian atas.

Pembangunan sengaja dilakukan dua kali karena ketinggian tebing hingga dasar sungai lumayan tinggi. Sekitar 6–10 meter.

Baca Juga: Banjir Rendam Dua Desa di Dringu, Aliran Listrik Dipadamkan, BPBD Kabupaten Probolinggo Siapkan Posko

Selain itu, pengerjaan proyek bronjong sulit dilakukan karena banyaknya rumah permanen di sekitar lokasi.

Pengangkutan material ke lokasi yang akan dibronjong pun sulit karena akses masuk dipenuhi rumah warga.

Seharusnya, menurut Anton, ada jarak antara bibir sungai dengan bangunan permanen yang dinamakan sempadan. Ini diatur dalam Permen PUPR RI Nomor 28/PRT/M/2015 tentang Penetapan Garis Sempadan Sungai dan Garis Sempadan Danau.

“Plan sempadan sejatinya tidak boleh dibangun bangunan permanen, sebab memang tidak aman. Apalagi untuk rumah tinggal,” katanya.

Banyaknya bangunan permanen, kata dia, menjadi kendala pihaknya dalam melakukan penanganan.

Sementara air sungai akan terus menggerus tebing dan semakin membahayakan rumah-rumah tersebut.