Kabar  

Karang Taruna, Organisasi Harapan Baru Pemuda Gampong

Karang Taruna, Organisasi Harapan Baru Pemuda Gampong

ZULKIFLI, M.Kom., Ketua Karang Taruna Kabupaten Bireuen 2013-2018, melaporkan dari Bireuen, Provinsi Aceh

Karang Taruna merupakan organisasi kepemudaan,  wadah pembinaan, pemberdayaan, dan pengembangan potensi kaum muda yang tumbuh dan berkembang atas kesadaran dan tanggung jawab sosial dari, oleh, dan untuk masyarakat, khususnya generasi muda, untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan kesejahteraan sosial di tingkat desa.

Definisi tersebut sesuai dengan Peraturan Menteri Sosial (Permensos) RI Nomor 25 Tahun 2019 yang merupakan pengganti Permensos RI  Nomor 77/HUK/2010 tentang Pedoman Dasar Karang Taruna.

Organisasi kepemudaan ini lahir  26 September 1960. Proses pembentukannya dicetuskan oleh Tati Marjono  (waktu itu sebagai Kepala Seksi Perlindungan Anak pada Bagian Kesejahteraan Anak Jawatan Pekerjaan Sosial) melalui program “Experimental Mission Karang Taruna“ di Kampung Melayu Besar, Kelurahan Bukit Duri, Kecamatan Kampung Melayu, Jakarta.

Dasar digulirnya program ‘experimental problem’ ini ialah sebagai suatu usaha prevensi (pencegahan) yang bertujuan  menampung dan memberikan pendidikan sosial psychological dan fisik kepada sejumlah anak yatim dan  remaja tanpa asuhan di Jakarta waktu itu, agar memreka bisa tumbuh dan berguna dalam berbagai aktivitas yang bermanfaat.

Pencetusan program ‘experimental problem’ ini mendapat dukungan luar biasa dari Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta saat itu, sehingga Karang Taruna tumbuh pesat di pusat.

Gubernur Ali Sadikin bahkan memberikan subsidi setiap bulan melalui APBD dalam jumlah besar untuk setiap kegiatan yang digelar Karang Taruna.

Ali Sadikin berprinsip, kalau persoalan kepemudaan tidak ditangani dengan serius dan baik, maka akan memunculkan “bom waktu” persoalan sosial yang lebih besar dan rumit di kalangan generasi muda pada masa yang akan datang.

Dalam bukunya “Gita Jaya”, Ali Sadikin menegaskan bahwa pembinaan generasi muda bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan dan penghidupan masyarakat.

Namun, lain dulu, lain sekarang.

Banyak faktor yang menyebabkan persoalan tersebut, mulai dari persoalan pendanaan, tanggung jawab, maupun rendahnya  pemahaman dan kekurangtahuan generasi muda terhadap fungsi organisasi.

Selain itu, faktor lemahnya kemampuan manajemen organisasi generasi muda di tingkat desa serta  masih terbatasnya penyebarluasan informasi Karang Taruna tentang peran, manfaat, serta  arti organisasi ini secara benar, ikut memperburuk keadaan.

Kalau dipedomani kebijakan pemerintah melalui Peraturan Menteri Sosial RI tentang Pedoman Dasar Karang Taruna dan AD/ART-nya, organisasi ini merupakan satu-satunya organisasi pelat merah di bidang kepemudaan yang mempunyai struktur kepengurusan mulai dari tingkat nasional sampai ke tingkat gampong (desa).

Tujuan dari dibentuknya Karang Taruna adalah untuk menjadikan organisasi ini sebagai suatu  tempat yang mewadahi berbagai kegiatan dan pengembangan cipta, rasa, karsa, dan karya  dalam rangka pengembangan sumber daya manusia, khususnya generasi muda,  di tingkat desa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *